Setelah menghabiskan setengah hari berjalan kaki sambil berbelanja, perjalanan kami di Nagoya berlanjut menuju ikon paling mentereng seantero kota ini:
Tokyo Disneyland ala Hyakushiki (part 2)
Bagian pertama bisa dibaca di sini.
Banyak yang bilang kalo Disneyland itu lebih cocok untuk bocah, berarti cocoklah buat kami berdua yang juga bisa dikatakan muda (di antara para senior di kantor).
Atraksi pertama yang kami coba adalah Western River Railroad. Pantas jadi atraksi pembuka karena jalurnya bakal ngelewatin atraksi lain seperti Jungle Cruise, Big Thunder Mountain, Mark Twain Riverboat, dan Splash Mountain.
Tokyo Disneyland in Hyakushiki Style (Part 2)
Read part 1 here.
The first attraction we tried on was Western River Railroad.
Here you can expect to see a Jurassic Tree, one of the oldest species of tree originally found in Australia.
Nagoya dalam 1 Hari (pagi-siang)
Nagoya menjadi titik awal perjalanan kami di Jepang tahun lalu. Kami tiba di bandara internasional Chubu sekitar pukul 8 pagi dan punya waktu seharian sampai keberangkatan bis malam menuju Tokyo. Ngapain aja kami di ibu kota Aichi Perfecture ini?
Kaiten Zushi
Di salah satu segmen Arashi ni Shiyagare yang tayang tanggal 29.11.2014, Arashi dan guest Kanda Sayaka makan di Kaiten Zushi atau sushi berputar.
Kebetulan setahun sebelumnya saya sempat makan di kedai kaiten zushi yang sama. Continue reading
Haneda Airport
Bandara menjadi salah satu gerbang keluar-masuknya orang dan barang ke sebuah negara. Dalam perjalanan kami, Haneda Airport adalah tempat terakhir di Jepang yang kami pijak sebelum kembali ke tanah air. Familiar dengan perasaan enggan mengakhiri perjalanan dan bersiap kembali ke ‘kehidupan nyata’? Itulah yang kami rasakan ketika sampai di salah satu bandara internasional di Tokyo ini. Awalnya kami pikir Haneda semacam airport untuk budget flights dengan fasilitas yang biasa saja. Ternyata kondisinya berbeda dengan yang kami bayangkan, membuat rasa tak karuan kami menguap dan berubah menjadi keriangan, “petualangan kami belum usai!”.
Tokyo Disneyland ala Hyakushiki (part 1)
Ada yang suka nonton variety show berjudul Hyakushiki-Ou? Hyakushiki yang artinya seratus pengetahuan ini merupakan variety show yang berformat seperti sekolah (atau ruang kelas lebih tepatnya). Inohara Yoshihiko dari V6 berperan sebagai Inocchi-sensei, memandu murid2nya yang semua anak JE untuk berbagi seratus pengetahuan tentang topik tertentu. Sayangnya setelah 7 tahun, acara ini dihentikan penayangannya.
Salah satu episode favorit kami adalah Hyakushiki tentang Tokyo Disneyland. Apalagi yang jadi reporter di episode itu adalah Yamashita Shoon (ex-Johnny’s Jr.) dan Fujigaya Taisuke (Kis-My-Ft2). Makanya saat berkunjung ke Tokyo Disneyland, kami berusaha mencari spot2 yang ada dalam Hyakushiki. Sebenarnya terakhir kami nonton ulang episode ini tuh sekitar setahun yang lalu, jadi pas ke Disneyland, cuma nyari yang nempel di ingatan aja, hahahaha.
Tokyo Disneyland in Hyakushiki Style (Part 1)
Anyone likes to watch Hyakushiki-Ou? It’s a variety show with a classroom concept, led by V6’s Inohara acted as a teacher, provide hundred of knowledge (hyakushiki) for each theme. Unfortunately, after 7 years, the program came to an end. Too bad, no more Takada and Sanada silliness… *sobs*
One of my favorite episodes is the Tokyo Disneyland one, Not only because it covers Disneyland (duh…), but because Yamashita Shoon (ex-YaYayah) and Fujigaya Taisuke (Kis-My-Ft2) did the location report. From the episode we could learn so many interesting facts and trivia about Tokyo Disneyland. So the next time you go there with your friends, don’t forget to impress them with your hundred knowledge of Tokyo Disneyland.
Nagoya Mosque
Sebagai muslim, jalan-jalan di negeri yang mayoritas penduduknya bukan pemeluk agama Islam tentu ada terbersit pertanyaan: “Nanti sholatnya di mana ya?”. Paling nyaman pasti sholat di tempat kita menginap. Tapi seandainya tidak memungkinkan, pencarian info tentang keberadaan mushola atau mesjid di kota yang akan kita kunjungi menjadi penting.
Dalam itinerary kami ke Japang, ada satu hari di mana kami harus menghabiskannya di Nagoya tanpa tempat menginap. Sampai sana pagi dan baru akan beranjak ke Tokyo tengah malam. Maka, mesjid atau mushola menjadi satu dari sekian tempat yang wajib kami singgahi untuk sholat. Oh yeah, di Nagoya ada mesjid dong.. Lokasinya cukup dekat dengan Nagoya Station, statsiun kereta terbesar di kota ini.
Dengan santainya kami jalan kaki mengitari Nagoya, mengikuti kaki melangkah sampai ga tau lagi sedang ada di bagian Nagoya sebelah mana. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore lewat banyak menit. Kami belum sholat! Padahal kurang dari 2 jam lagi adzan magrib akan berkumandang. Buka peta, cari jalan terdekat menuju Nagoya Mosque, intip jam, lihat posisi matahari, dan… kami mulai panik.
Akomodasi: House Ikebukuro
Pos terbesar dalam travelling biasanya adalah biaya akomodasi (setelah tiket pesawat tentunya). Besarannya bisa sekitar 20-40% dari budget, tergantung dari jenis akomodasinya. Apalagi di Jepang yang sudah terkenal sebagai salah satu kota termahal di dunia. Kalau yang suka browsing-browsing cara dapetin tempat nginep murah di Jepang, hampir pasti pada nyaranin untuk menginap di hotel kapsul. Tapi jenis akomodasi seperti ini tidak cocok jika kita ingin menginap lebih dari semalam dan memiliki barang bawaan banyak.
Salah satu akomodasi rekomendasi kami adalah House Ikebukuro. Sesuai namanya, penginapan ini letaknya di area Ikebukuro. Jaraknya cuma 15 menit jalan kaki aja dari stasiun Ikebukuro (West Exit) dan cuma 10 menit dari halte bis dari dan ke bandara (kalau kecepatan jalan kamu kayak penganten Jawa, maka waktu tempuh akan menjadi 3 kali lipatnya). Letaknya memang bukan di pinggir jalan utama karena masih harus masuk ke dalam jalan kecil, tapi tetap mudah untuk dicari.






