Haneda Airport

Bandara menjadi salah satu gerbang keluar-masuknya orang dan barang ke sebuah negara. Dalam perjalanan kami, Haneda Airport adalah tempat terakhir di Jepang yang kami pijak sebelum kembali ke tanah air. Familiar dengan perasaan enggan mengakhiri perjalanan dan bersiap kembali ke ‘kehidupan nyata’? Itulah yang kami rasakan ketika sampai di salah satu bandara internasional di Tokyo ini. Awalnya kami pikir Haneda semacam airport untuk budget flights dengan fasilitas yang biasa saja. Ternyata kondisinya berbeda dengan yang kami bayangkan, membuat rasa tak karuan kami menguap dan berubah menjadi keriangan, “petualangan kami belum usai!”.

Terminal international di Haneda terdiri dari 5 lantai dengan 3 lantai pertama standar sebuah bandara yang modern. Nah, yang membuat kami sumringah adalah apa yang tersaji di 2 lantai berikutnya.

Kontras dengan bangunan bandara yang modern, area perbelanjaan di lantai 4 membawa kita ke jaman Edo. Restoran dan toko-toko di lantai ini didesain dengan arsitektur khas Jepang tempo dulu. Areanya tidak terlalu luas, tapi sangat menarik dan terasa berbeda. Selain itu, ada toko sovenir yang menjual makanan khas dari berbagai daerah di Jepang. Cocok buat yang mau menghabiskan Yen atas nama oleh-oleh.

Naik ke lantai 5, kita akan dibawa ke suasana yang berbeda. Lantai teratas dari Terminal Internasional ini bisa membuat penggemar karakter Jepang kalap. Ada paling tidak 5 buah toko yang menjual pernak-pernik bernuansa kartun, manga, dan sejenisnya. Keluar-masuk toko di lantai ini tidak baik untuk kesehatan kantong. Para perempuan akan tergoda untuk merogoh kocek sambil tak henti bilang, “ini lucu banget!”. Para lelaki, hati-hati dengan figurine dan mainan remote control yang bisa menguras isi dompet.

2014-04-26 18.56.11

Salah satu character shop yang ada di lantai 5

Perlu diingat, toko-toko di lantai 4 dan 5 hanya beroperasi hingga pukul 10 malam. Agak mengecewakan untuk para penikmat flight tengah malam karena tidak bisa puas belanja sambil menunggu jadwal terbang. Dan seingat kami di ruang tunggu sudah tidak ada lagi toko souvenir atau sejenisnya, hanya vending machine minuman.

Dari Tokyo, ada beberapa alternatif transport menuju Haneda Airport, begitu pula sebaliknya. Mempertimbangkan kondisi fisik yang sudah lelah dan kemalasan kami naik-turun kereta dengan bawaan yang lumayan berat, waktu itu kami memilih menggunakan limousine bus. Kalau di Indonesia sih ini semacam bis Damri bandara. Kebetulan haltenya hanya beberapa meter dari tempat kami menginap, House Ikebukuro. Di halte tersebut tersedia jadwal kedatangan bis ke halte dan perkiraan sampai bandara serta tarif yang harus dibayar. Sasuga!

One thought on “Haneda Airport

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s